aroline mendengarkan adzan pelan dalam lamat-lamat bau dupa, Ning Kemiri sibuk menyimak lantunan tembang Jawa pada kamar yang dipenuhi dupa aroma terapi, wangi dupa menyurak menembus hidung Caroline yang mancung, seakan menyisakan sisa kenang yang tak akan pernah dilupakannya.

Hati Caroline teriiris perlahan, sepelan tembang macopat yang berada di kamar Ning Kemiri, bau dupa terapi tak mampu menepis magis di hatinya, kerinduan akan Lia dan Abraham, dua buah hati yang sangat dicintainya. Kerinduan menyisakan mimpi indah yang pernah di laluinya dulu bersama Pramono, Pria Jawa yang membuatnya tergila-gila, menusuk ruang hidup dan cinta matinya. Membawanya jauh menyebrangi lautan. Membawa mimpi buruknya sebagai masyarakat kelas bawah, yatim piatu, dari Cape Town – South Africa menuju Indonesia, tanah air kedua Caroline. Menikah secara Jawa, mengenal Islam pelan. Masuk dalam kancah keluarga bangsawan Sostroamidjoyo. Menyandang gelar dibelakang namanya, sekalipun Caroline tetap ingin dipanggil Carol, nama masa kecilnya, pun akhirnya dia rela menjadi menyandang gelar Ny. Pramono, mendampingi Pramono, sebagai salah satu orang pengusaha terbesar di negerinya.

KETIKA DURI MENUSUK CINTA

Berawal dari tahun demi tahun berlalu, Caroline berusaha menyesuaikan diri mengubur kultur budayanya dengan menjadi orang Jawa tulen, menekan huruf l dalam aksen bulenya yang kental, mengecat rambutnya menjadi hitam, bersanggul, berkebaya, berceloteh layaknya Jawa, mengenal laku dodok, unggah-ungguh, dan juga menekan emosi. “Nerimo Ing Pandum”. Pendeknya Caroline memperoleh julukan sinis baru di keluarga Sastromidjoyo, yang tidak pernah bisa menerimanya dengan ikhlas, sebagai bagian dari keluarga bangsawan besar di masanya, mereka sering mengejek bahasa Jawanya yang “medok” dengan berbagai dalih bahwa apa yang diusahakan adalah sia-sia, sering mengucilkannya dalam berbagai acara keluarga, menghina status orang pinggiran di negerinya, bahkan menjulukinya “Bule Jawa”. Dan Caroline teramat tahu, pasrah dengan semua hal karena dia mencintai keluarganya, mendewakan mereka, menganggap bahwa anak-anak dan keluarganya adalah segalanya.

Pramono larut dengan kariernya di dunia bisnis dan perbankan, nyaris melupakan Caroline, membiarkan Caroline merasa dirinya berdiri pada ruang hampa tanpa Pramono, berjuang menepis omongan orang tentang dirinya yang “bule”. Bahasa yang di bencinya karena istilah “bule” nya sendiri yang Caroline tahu adalah yang berarti “albino” dalam bahasa aslinya, yang dipergunakan untuk keadaan fisik tertentu dari manusia atau binatang, bahkan orang kulit putih pun dapat saja albino. Atau semacam cacat bawaan. Penghinaan itu Caroline tampung kian lama kian menumpuk. Belum lagi menepis puluhan gosip tentang affair Pramono dengan beberapa rekan bisnis wanitanya.

Memahami kegundahan hati bahwa selama ini dia menjadi orang lain. Memahami komunikasinya antar Pramono dan dirinya, seperti tak pernah ada titik temu. Memahami akhirnya, dia tidak bisa menjadi diri sendiri yang selama ini berusaha di tekannya.

Caroline yang tenggelam dalam dunianya, mulai menekuni ritual lamanya di Cape Town, masa suram mengenal ilmu klenik warisan leluhur africanya “vodoo”. Menggunakan ilmu ini untuk terus-menerus menutupi rasa minder dan terkucilnya dari masyarakat kelas atas Jawa Kental. Mulai menelusuri perjalanan kelamnya selama di Cape Town. Beberapa sakit hati tertuntaskan lewat ilmu hitam tersebut. Beberapa diantaranya bahkan sempat tunduk berkat ilmu hitamnya. Caroline melupakan semuanya bahkan dia mengendalikan Pramono. Tahun-tahun berlalu Caroline semakin tenggelam dalam klenik, melepas atribut agama barunya. Benar-benar terjun menekuni “Vodoo”. Hingga Lia lahir, di susul kemudian Abraham. Kesibukan Caroline mengurus keduanya, sejenak menjauhkannya dari Vodoo. Caroline sangat mencintai anak-anaknya dan Pramono, kebahagiaan Caroline telah lengkap. Pengalamannya menjadi Yatim Piatu sejak umur 3 tahun, membuatnya mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga yang sangat dicintainya. Menempatkan cintanya kepada mereka diatas segala-galanya.

Hingga memasuki tahun ke – 15 pernikahannya, Caroline menemukan Pramono yang mabuk berat, tertidur di dada seorang wanita Tionghoa, di bagian barat rumahnya. Caroline berlari meninggalkan kediaman keluarga besar Pramono, terus berlari menyusuri jalanan sunyi, tangis yang meledak, teriakan Pramono, kejaran mobil Pramono tak mampu menghentikan pelarian Caroline.

Hingga pingsan dan diketemukan oleh Ning Kemiri, seorang wanita tua berkerudung, yang tinggal jauh di luar tembok menjulang keluarga Pramono, tinggal menepi di sebuah gubuk asri miliknya selama hampir 2 tahun ini.

Dari Ning Kemiri, Caroline berupaya mengembalikan kepercayaan dirinya, kegundahan hati, kesedihan, keterpurukan, dan belajar agama, tentang Ilmu Ikhlas. Sesaat Caroline teringat “Vodoo”, beberapa kali di cobanya mengulangi ritual ilmu hitam itu, hingga kemudian diketemukan Ning Kemiri. Wanita inilah yang menyadarkannya.

SILUET MALAM DIANTARA REDUPNYA REMBULAN

Caroline tersadar dari lamunannya akan masa lalu, ketika suara Ning Kemiri memanggilnya dari dalam gubuk,” Linah, kemarilah nduk, duduk didekat si mbok”, Caroline tersenyum, begitulah namanya sekarang, Si Mbok menyebutnya dengan susah payah, akhirnya mengambil inisiatif untuk menyebutnya Linah. Caroline merasa betah tinggal di gubuk, sudah menganggap Si Mbok seperti orang tuanya sendiri, dan si Mboklah yang menghentikan kebiasaan buruknya merapal mantra-mantra Vodoo, si Mbok lebih banyak mengenalkannya pada lantunan ayat suci Al-Qur’an memberinya terapi dupa wewangian bunga-bunga segar untuk menghilangkan penat dan stressnya, serta selalu merayunya untuk mulai sholat. Dan yang paling bahagia tidak ada satupun tetangga ataupun orang-orang di sekitar yang menganggapnya terlalu aneh dan menyebutnya “Bule Jawa”.

“Sebentar Mbok” sahut Caroline sambil membasuh air matanya.

Si Mbok, menatap Caroline tajam, tahu wanita yang kini telah di angkat menjadi anaknya ini sedang bersedih. Kepiluan jelas terlihat di mata Wanita ini.

“Linah kamu pasti habis menangis, matamu itu, tidak pernah berbohong”.

Caroline tersenyum getir, menatap jendela yang terbuka lebar dari kamar si Mbok, dan mengintip bulan yang muncul malu-malu malam itu.

Si Mbok menghela nafas, nyaris berbisik “Linah anak-anak hanyalah titipan, sewaktu-waktu Gusti Allah menghendaki kita harus merelakan, entah karena kematian, pernikahan, ataupun perceraian”.

Caroline tak kuasa berhambur ke pelukan si Mbok menangis tersedu, ada keinginan untuk kembali berada diantara tembok menjulang, tapi ada yang menahan untuk memasukinya, ketidak nyamanan,dan segala tekanan di dalamnya membuat Caroline jengah terlebih sekarang hampir dua tahun, Caroline yakin mereka sudah melupakan, karena tidak di dengarnya mereka mencari lagi, atau entah karena Caroline pandai menutup keberadaannya selama ini.

Tapi keinginan kuat menjumpai kedua anaknya begitu bertalu didadanya.

Si Mbok mengelus pelan rambut Caroline, berkata sekali lagi “Sholatlah Linah, temukan kedamaian diantara guyuran wudhu dan juga doa di dalam sholatmu, cobalah, kapan lagi sudah hampir dua tahun”.

Caroline menengadah, disaat yang sama lamat-lamat Caroline mendengar suara adzan, di balik pintu hati yang sangat tertutup, Hidayah Allah turun, untuk pertama kalinya Caroline, mendengarkan suara adzan terindah malam itu. Terbangun dari pelukan Si Mbok, beranjak keluar perlahan, menatap langit-langit Allah, menangis bahagia.

AKHIR PENANTIAN PANJANG

Tiga tahun berlalu, Caroline benar-benar menjadi muslimah, dan kini berkerudung rapat, menikmati hari-harinya dengan mengaji dan sholat, semakin khusyuk, semakin Ikhlas ketika dia memahami semuanya adalah hikmah, langkahnya semakin ringan, hingga suatu hari dalam perjalanan menuju masjid, seorang menyapanya dengan panggilan yang membuatnya menangis tersedu. “Mama….”. Caroline menoleh pelan mendapati sosok laki-laki remaja maha tampan, memiliki mata sebiru miliknya, Caroline tertegun, pandangannya beralih seakan menatap cermin ketika berlahan dia menoleh pada wanita disebelah laki-laki remaja itu, rambutnya ikal kemerahan dan birunya mata, mengingatkan Caroline pada sosok Carol dirinya dulu.

Gumannya sangat pelan tapi menyayat kalbu “Lia?…..Abraham?”.

Sedetik kemudian mereka bertiga tenggelam dalam peluk, menangis haru sekaligus bahagia, kerinduan Caroline, doanya yang hampir 3 tahun, di ijabah Allah dengan cara terindah, merengkuh kedua anaknya dalam pelukan.

Dalam pelukan Caroline tidak menyadari, sosok laki-laki yang telah menua, rambutnya sebagian telah memutih, tapi sisa ketampanannya tidak akan pernah dilupakan Caroline yaitu suaminya Pramono, Ia menatap mata Pramono yang sayup, seakan ada kepedihan mendalam di sana.

Caroline sesaat mundur, tak meyambut uluran tangan Pramono, bukan karena kemarahan yang telah pudar seiring waktu dan pendewasaannya tapi karena lama tak bertemu, Pramono sosok asing dimatanya.

Pramono malu dan juga canggung menatap Caroline, ada banyak hal yang tidak mampu di ungkapkan, bagaimanapun Pramono memaklumi, apa yang telah terjadi, dia telah menghianati Caroline tepat di depan matanya.

Tiba-tiba kedua anaknya meraih tangan masing-masing, menautkan keduanya dan merapatkannya, memaksa mereka berdua berjabat, Lia bahkan mengeluarkan kamera kecil miliknya, memotret adegan pertemuan bersejarah dalam keluarga mereka. Caroline menatap kedua anaknya, ada keyakinan untuknya. Setelah itu dia menatap Pramono, menyusuri banyak kerutan di wajah, dan menjumpai segaris tipis senyum bijak, Caroline menyentuh wajah Pramono yang telah menua, saling bertatapan sejenak hingga kemudian larut dalam hangatnya pelukan kerinduan, Caroline melupakan semua peristiwa, tahun-tahun membuatnya belajar memaafkan, belajar Ridho, belajar mengikhlaskan semuanya.

Diantara suara Adzan Magrib yang bertabuh, mereka berempat saling berangkulan menyongsong kehidupan baru yang lebih baik, bersama menuju masjid, mencari kebahagiaan hakiki, mengesampingkan cinta dunia yang fana dan berjalan meraup cinta Illahi Rabbi yang kekal abadi.

Sayup-sayup suara renta Ning Rukmini terdengar dari dalam gubuk, melantungkan sebuah ayat Al-Qur’an………

“Fabiayyiala irabbikuma tukadzziban…”(Dan nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?”)