Rif,  carilah istri lagi”, Kata Zia.

“Gila, Kamu?”, apa maksudmu. Kata Rifa’i keras.

Mata Zia berkaca-kaca, dadanya berdegub keras, tangannya sibuk memainkan jilbab  biru mudanya.

Rifa’i memandang lurus tepat di bola mata Zia, mencari-mencari apa yang ada dalam pikiran, cintanya.

Tiba-tiba Zia terisak pelan, meracau bebas :

“Aku ikhlas, Rif, Aku Ridho, Aku mau di madu”.

Setelah kalimat terakhir Zia menangis lebih keras lagi. Kali ini tersenggal-senggal, Rifa’i memegang bahu Zia, matanya tak lepas menatap Cintanya.

“Zia, kamu ngomong apa sih, Sayang?”, kali ini nada suara Rifa’i melunak.

“Rif, tidak pahamkah kamu, berapa lama kita menunggu-nunggu buah hati, tak juakah kamu tahu, betapa aku sudah tidak mampu lagi mendengar pertanyaan dari  Abah dan Umi, begitu juga Ibu dan Bapakmu, kakak-kakak iparmu, belum lagi, para tetangga yang bergunjing, 11 tahun Rif…”, kali ini kata-kata Zia tercekat di sini.

Wajahnya tiba-tiba memerah, kali ini tangisnya meledak keras tak terbendung, hingga tangannya dingin, dan Rifa’i tak mampu menghentikan.

 

 

KETIKA EMBUN PAGI MENETES DI DEDAUNAN

Zia menggeliat ketika matahari menerobos ruang kamarnya. Matanya yang sembab, sisa tangis tadi malam.

Membuatnya terkesiap, mentari telah malu-malu menampakkan dirinya, embun sisa hujan kemarin menetes di dedaunan, sedang dia masih berbaring malas, melihat jam weker di samping mejanya, jam 05.30 Wib, Zia langsung mengambil handuk, berwudhu, dan menunaikan sholat, setelahnya segera menuju dapur, namun langkahnya berhenti seketika begitu melewati ruang makan.

Masakan telah terhidang, dan Zia langsung berpikir, Rifa’i. Siapa lagi yang membuat kejutan ini selain dirinya, karena mereka hanya tinggal berdua.

Bergegas Zia, mencari sosok Rifa’i hingga dia menemukan suami tercintanya sibuk merapikan Laptop di ruang kerjanya.

“ Belum tidur, Rif ?”, kata Zia, mendapati Rifa’i, dalam wajah kuyu.

Zia langsung menghampiri, membantu Rifa’i berbenah.

Kemudian, mata mereka saling bertatapan, kali itu dia melihat mata jengah Rifa’i.

“Rif, makasih buat sarapannya, maaf ya saya kesiangan, mestinya saya………….”

Rifa’i, meletakkan telunjuknya di bibir Zia “ssttt, sudahlah Zia, kamu telah melakukan ini sepanjang pernikahan kita, 11 tahun, dan ini bukanlah hal yang kamu sengaja, km telah melakukan yang terbaik, Aku hanya ingin sesekali membantumu.” Kata Rifa’i seraya berlalu.

Tiba-tiba tangan Zia, menahan langkah Rifa’i. Kata Zia “Rif, kemarin malam aku benar-benar serius.”

Rifa’i membalik badan, memegang bahu Zia, menatapnya kembali.

“Zia, Kalo kamu serius, baiklah aku setuju, tapi kamu yang  harus mencarikannya untukku”.

Mata Zia sejenak berbinar, tadinya dia tidak yakin Rifa’i akan menyetujui niatnya, kini kekhawatirannya tidak terbukti, akhirnya Rifa’i menyetujuinya.

 

MINGGU PERTAMA – MINGGU KEDUA

Zia, menelpon seluruh teman baiknya, terutama yang belum menikah. Dia menawarkan ide untuk menikahi Rifa’i.

Semua sahabat Zia menyebutnya “GILA”.

Hingga akhirnya hari itu dia menyerah.

MINGGU KETIGA – MINGGU KEEMPAT

Zia nekat menawarkan suaminya pada sebuah biro jodoh di koran yang pernah di bacanya.

Sampai dengna minggu keempat dia menerima puluhan surat jawaban, dia mempelajari satu bersatu surat-surat jawaban yang  dia dapat, membaca satu persatu.

Zia menelitinya dan merasa tidak ada satupun yang sesuai dengn kretria yang diinginkan Zia.

Terutama adanya syarat untuk membuat surat keterangan berkaitan dengan test kesuburan.

Hampir semua surat balasan tidak menyertakan surat keterangan tersebut, hanya beberapa tapi tidak memenuhi kreteria karena mereka mulai mengada-ada hanya seperti menjual rahimnya.

Zia tertunduk lesu.

MINGGU KELIMA – MINGGU KEENAM

Zia menambah volume semangatnya mencarikan Istri  untuk Rifa’i suaminya, kali ini dia menawarkan kepada janda-janda yang di kenalnya dalam majelis taklim di sekitar rumahnya.

Hingga suatu saat Zia menemukan seseorang yang  dianggap cocok, seorang Janda satu anak, dan masih sangat belia, suaminya meninggal ketika menjadi TKI di luar negeri. Dan kini dia menjanda.

Dengan setengah bergetar, Zia, menerima kartu nama yang di berikan Janda itu. Wajah janda itu mengingatkan Zia pada seorang artis sinetron di TV “zaskia Mecca”.

Zia mulai cemburu, hatinya berdegup kencang, dia kembali melihat janda cantik itu, mulai dari wajah hingga postur tubuhnya yang aduhai.

Zia kemudian menekuri dirinya. Wajahnya jelas kalah jauh dengan sosok wanita yang kini dihadapannya, begitu juga warna kulitnya yang sawo matang, di banding wanita itu yang kulitnya jauh lebih bersih dan bersinar.

Tapi kemudian di tepis pikiran cemburu itu jauh, dia kembali pada niat awal untuk mendapatkan calon pendamping suaminya.

Trisna, begitulah nama panggilan janda itu.

Zia, mulai mengatur jadwal kencan suaminya dengan janda itu.

Malam harinya Zia sengaja mengajak Rifa’i keluar untuk memperkenalkan Trisna pada suaminya.

Trisna datang mengenakan gaun merah dan jilbab merah menyala, Masyaallah cantik sekali batin Zia, hati Zia yang lain bergetar hebat. Hampir saja dia menangis, terlebih ketika dia  melihat Rifa’i, yang seakan terpesona oleh kecantikan Trisna.

Sebagai sesama muslimah, Trisna menghargai Zia. Sehingga dia bersikap sangat sopan, menunggu Zia memulai pembicaraan.

Mereka mulai berbasa-basi memperkenalkan dirinya masing-masing, sesekali dia melihat Mata Trisna melirik malu Rifa’i, dan kilatan mata itu, membuat jantung Zia seakan berhenti.

Hatinya terasa terkoyak, Zia meremas jilbab yang di kenakan.

Sedang Rifa’i sepintas, tidak begitu tertarik.

Dirinya malah sibuk memainkan Hpnya.

Zia tidak menanggap ada lirikan sebal suaminya kepadanya.

MINGGU KESEPULUH

Sudah 3 kali ini suaminya, melakukan ta’aruf dengan Trisna.

Dan untuk kali ketiga ini, dia menemukan adanya perbedaan, dari sikap, tindak tanduk, dan juga kebiasaan suaminya.

Dimata Zia, Rifa’i terlihat makin tampan, dan bersih, serta mulai merubah penampilannya.

Puncaknya adalah malam minggu ini, malam keempat dia mengajak Trisna makan malam dan rencananya Trisna akan mengenalkan Rifa’i kepada keluarga besar Trisna.

Zia tersekat ketika Rifa’i berpamitan dengannya.

Ketika melangkah menuju pintu, Zia menubruk Rifa’i dari belakang, memeluknya, terisak hebat di punggungnya.

Rifa’i menoleh kearah Zia.

Memandang wajah Zia yang terisak, kemudian memegang dagunya, mencium keningnya.

Katanya lembut “ Ada apa. Sayang?”

Zia menggeleng, namun sejurus kemudian dia berkata “ Rif, andaikata kamu mencintainya, dan berniat melangsungkan pernikahan, maukah kamu menceraikan aku, karena aku tidak tahan dengan semua ini, aku mulai tidak ikhlas Rif.”

Kening Rifa’i mengernyit, seulas senyum nakal terurai di bibirnya.

“Katanya kamu mau aku menikahi Trisna, dan kamu rela di madu?, aku khan menuruti kamu Sayang. Karena aku sayang sekali sama kamu”, Kata Rifa’i.

Tangis Zia semakin keras.

Katanya kemudian “ Ternyata sulit menjadi Ikhlas Rif,ketika orang yang sangat kita cintai, harus berbagi cinta dengan yang lain. Tidak Rif, Aku tidak sanggup, misalakan aku boleh memilih, jika memamng kamu sudah terlanjur mencintainya. Lebih baik kamu tinggalkan aku, dan menikahlah dengannya. Aku akan lebih menerima itu, karena aku tidak perlu melihat kalian bermesraan setiap hari di hadapanku”. Cerca Zia.

Rifa’i, tak tak kuasa menahan tawanya, sejurus kemudian memeluk Zia, mencium keningnya kata Rifa’i.

“Zia siapa yang akan menikah? Dan siapa yang akan meninggalkanmu?. Kamu pikir begitu mudahnya cinta yang kita bina 11 tahun lamanya berpindah hati. Sejak awal menikah, aku sudah memutuskan akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku untuk membahagiakan kamu, menyayangi, mencintai, dan melindungi kamu Sayangku. Ikatan pernikahan kita disaksikan Tuhan, dan menikah bukan permainan Zia”. Kata Rifa’i lembut.

Zia tertegun, menghentikan isaknya kemudia menjauhkan tubuh Rifa’i seraya berkata “Loh, bukannya kamu sudah melakukan taaruf dengan Trisna?, lalu……..”

Rifa’i memotong kata-kata Zia “ Aku sudah memutuskan hubungan sejak hari pertama kami makan malam, aku pikir kamu konyol sekali menjodohkan aku dengan wanita lain, dan kekonyolan itu harus di akhiri mulai hari itu. Aku memang sengaja merubah penampilan supaya bisa membaca reaksi kamu, ternyata Cintamu masih sedalam ketika pertama kita menikah dulu”.

Zia cemberut. Mencubit perut Rafa’i yang gendut, sedetik kemudian mereka larut dalam cengkrama yang indah, hari ini hari terindah bagi Zia.

Rifa’i tidak pernah mempersoalkan kekurangannya, seperti juga dia tidak pernah mempersoalkan kekurangan Rifa’i, dan ide untuk mencarikan Istri untuk suaminya adalah ide paling konyolnya sepanjang usia pernikahan mereka.

Di beberapa saat setelahnya, Rifa’i, sibuk mempersiapkan persalinan Zia, setelah 15 tahun menikah, Allah telah melihat kesungguhan pasangan ini sehingga mereka akhirnya di berikan keturunan.

“ Allah Maha Tahu yang terbaik bagimu sedangkan kamu tidak”

 

SILUET RABIAH ALDAWIYAH

Disuatu malam Rabiah mengenakan pakaian yang paling indah, dan perhiasan yang paling cantik, berdandan cantik untuk suaminya. Kemdian dia mendatangi suaminya, ketika suaminya berkunjung ke rumahnya dari rumah istrinya yang lain, kemudian katanya

“Suamiku apakah engkau menginginkanku?”

Kata suami Rabiah “Tidak, sayangku, aku hanya ingin menjengukmu,”

Tiga puluh menit kemudian setelah bercengkrama dan mengobrol dengan suaminya, dia mengenanggalkan pakaian indahnya, berganti dengan pakaian sholat, dan kembali bermunajat kepada Allah.

Tiada beban di hatinya, hanya ada keikhlasan dan Ridho di hatinya.

Sedang suaminya kembali ke rumah istrinya yang lain.

Andai kita diberikan keikhlasan seperti Rabiah Aldawiyah.

Subhannallah………..dan untuk mencapai itu, kita tidak boleh menginginkan duniawi sama sekali, kecuali untuk makan dan minum secukupnya serta membawa nafsu pada kecintaan Illahi Rabbi…………..