Posts from the ‘Cerita Islami’ Category

Mahrunnisa The Twentieth Wife


Novel ini merupakan, karya Indu Sundares yang Pertama, namun sangat spetakuler, dibuat berdasarkan kisah nyata, dari masa kejayaan Kesultanan Mughal, di India.

Di ceritakan dalam detail yang indah.

Referensinya diperoleh, sebagian dari Buku sejarah kerajaan Islam di India, cerita legendaris, dan juga omongan turun-temurun, dari orang-orang disekitar Kesultanan pada waktu itu.

Rangkaian benang merah yang disusun rapi, oleh Indu Sundaresan ini, membuat novelnya terasa sedemikian nyata dan hidup.

Alkisah, diceritakan dalam gaya bertutur, bahwa Mahrunnisa adalah seorang gadis yang dilahirkan dari anak cucu seorang Wazir di Persia.

Karena keadaan politik setelah Kesultanan Persia, beralih tahta, maka sang wazir kehilangan kedudukannya, bahkan beberapa saat setelah itu seluruh keluarga sang wazir diperintahkan untuk dibunuh.

Ayah, Mahrunnisa, anak sang Wazir, berhasil menyelamatkan dirinya dan ketiga anaknya, untuk kemudian bersama-sama mengadu nasib menuju India, hendak memohon perlindungan dari Sultan Akbar, Sultan Mughal yang terkenal bijaksana.

Ditengah perjalanan mereka menumpang pada karvan-karvan gurun yang sederhana dengan berbekal seluruh sisa harta kekayaan sang Wazir.

Ditengah perjalanan, rombongan mereka mengalami musibah, di hadang oleh sekumpulan perampok, sehingga, mereka harus merelakan satu-persatu hartanya dirampas, bahkan Istri anak dari sang wazir nyaris diperkosa, andaikata tidak diketahui, bahwa dia telah mengandung anak-nya yang ke-empat, Mahrunnisa.

Singkatnya keluarga Anak sang Wazir diberkahi dengan kelahiran Mahrunnisa, yang nyaris dibuang karena sang Ibu tidak mampu menyusui, karena kekurangan makan, dan keadaan meraka yang sangat miskin, kehilangan statas kebangsawanan sebagai pelarian, membuat status mereka kini, praktis menjadi rakyat jelata.

Namun, karena keberuntungan atas kelahiran Mahrunnisa, inilah, akhirnya nasib membawa anak sang wazir, ayah Mahrunnisa, menjadi bendahara di salah satu Provinsi di Kesultanan Mughal, yang kemudian perlahan-lahan memperoleh promosi hingga menjadi Bendahara Istana.

Seiring dengan itu keadaan ekonomi keluarga Mahrunnisa semakin meningkat. Dari sinilah awal mula kedekataan Mahrunnissa dengan Ruqayyah, Permaisuri Sultan Mughal, Sultan Akbar.

Ruqayyah sudah menyukai Mahrunnisa mulai ia berumur 9 tahun, setelah itu dan sesudahnya, Mahrunnisa menjadi dayang kesayangannya.

Sedangkan Mahrunnisa mulai usai 9 tahun itu juga, sudah menyukai sosok pangeran nan tampan, sang putera mahkota, Saliem khan, yang kemudian setelah menjadi Sultan bergelar, Shah Jahan.

Mahrunnisa yang cantik jelita bermata biru, berkulit putih, lembut, harum, serta bertubuh indah, khas sensualitas wanita Persia, telah memikat hati sang pangeran.

Tidak hanya kecantikan fisiknya, karena pangeran saat itu sudah memiliki lebih dari 15 Istri, dan puluhan selir, tapi karena juga Mahrunisa, satu-satunya wanita yang cerdas dan berkarakter, yang membuat sang pangeran jatuh cinta.

Selama ini Pangeran Saliem menikahi Istri-istrinya karena politik, untuk mempersatukan dua kerajaan, atau memperkuat kedudukan kesultanan Mughal, saja, dan tidak pernah sekalipun sang pangeran jatuh cinta kecuali kepada Mahrunnisa.

Pengetahun dan wawasan akan kesultanan Mahrunnisa yang luas, ditunjang kecerdasan, dan keanggunannya, membuat Pangeran Salim dibuat mabuk kepayang, dan ingin sekali menyuntingnya.

Namun Malang, Mahrunnisa, sudah terlanjur di jodohkan oleh ayahnya atas perintah Sultan Akbar, kepada seorang prajurit yang pernah berjasa, di kesultanan Mughal, berdarah Persia seperti halnya Mahrunnisa, bernama Ali Qhuli.

Oleh karena Adat dan tradisi saat itu dimana Perempuan harus mau menerima pinangan yang dipilihkan sang ayah, yang dasarnya dari perintah Sultan Akbar, maka Mahrunnisapun menerima, sekalipun itu bertentangan dengan hatinya yang telah berpihak kepada Pangeran Saliem.

Pernikahan Mahrunnisa yang dipaksakan ini, berlangsung tidak bahagia, beberapa kali Ali Qhuli menyakiti hatinya, dengan beberapa kali perselingkuhannya bersama budak-budaknya, hingga yang terakhir diketahui sendiri oleh Mahrunnisa dengan mata kepalanya sendiri, disamping itu terdapat banyak perbedaan visi diantara keduanya, sekalipun Ali Qhuli sangat mengagumi kecantikan Mahrunnisa.Pada jaman ini perempuan bangsawan atau rakyat jelata, tidak diperbolehkan memperlihatkan wajahnya kepada selain muhrimnya, sehari-hari mereka mengenakan cadar,

kecuali jika berada di harem sultan, dimana semua yang ada didalamnya adalah dibawah perlindungan sultan dan menjadi milik sultan.

Pernah suatu saat ketika Ali Qhuli membocorkan rahasia kecantikan Istrinya kepada Saliem sang pangeran, ketika sempat ditugaskan bersama-sama untuk menghentikan pemberontakan di salah satu wilayah kesultanan.Padahal, sang sultan. telah terlebih dahulu mengetahui kecantikan Mahrunnisa lewat pertemuan tak terduganya di salah satu ruangan dalam harem sultan, di halaman, di kediaman Ratu Ruqayyah.

Kisah cinta nan romantis ini, diselingi pula oleh beberapa cerita tentang pemberontakan Pangeran Saliem, dan Khurasu, anak sulung pangeran Saliem.

Hingga terbunuhnya Ali Qhuli.

Ketika Pangeran Saliem, sudah bekedudukan sebagai Sultan, dan menghadiri pertunangan anaknya dari Istrinya Jagat Ghosni, bernama Kharem dengan Arjunmad, keponakan Mahrunnisa (kisah cinta keduanya kemudian diabadikan lewat pembuatan Taj Mahal nantinya).

Saat itulah sang Sultan Shah Jahan, bertemu kembali dengan Mahrunnisa, dan memutuskan, sebagai seorang Sultan dia merasa berhak menentukan siapapun yang akan dipilihnya sebagai pendamping, termasuk Mahrunnisa yanga saat itu masih berstatus Istri Ali Qhuli, hingga kemudian dia memerintahkan kepada Ayah Mahrunnisa untuk meminta Ali Qhuli menceraikan Mahrunnisa, karena jauh sebelumnya sang Sultan tahu, jika Mahrunnisa tidak bahagia bersama-nya. Disamping itu Ali Qhuli memiliki kesalahan, karena sempat memberontak, bekerja sama dengan anak sulung sang Sultan, Khurasu, kepada sang Sultan. Namun Ali Qhuli yang mengetahui itu, enggan melepas Mahrunnisa, bahkan berkeinginan memberontak, hingga Sang Sultan mengirim utusan seorang Gubernur ke Rumah Ali Qhuli untuk membicarakan masalah ini secara pribadi. Namun demi melihat sang Gubernur, yang membawa cukup pasukan, Ali Qhuli, berprasangka lain, dia langsung menyerang pasukan tersebut membabi buta, hingga sang Gubernur meninggal dunia, dan kemudian Ali Qhuli terbunuh dengan tragis.

Dan Mahrunnisa bersama seorang anak perempuannya, diselamatkan oleh pengawal pribadi kesultanan yang disusupkan menjadi anggota prajurit Gubernur Koka yang terbunuh, atas perintah sang Sultan.

Ringkasnya, sang Sultan berhasil menikahi Mahrunnisa ketika Mahrunnisa telah berusia 34 tahun, dan keduanya memang benar-benar saling mencintai.

Rasa cinta yang besar inilah, yang membuat sang Sultan menghargainya sedemikian, hingga tidak menjadikan Mahrunnisa sebagai selirnya, melainkan memberikan kedudukan tertinggi yang sanggup diberikan sang Sultan Mughal, yaitu sebagai, istrinya, mendobrak sejarah kesultanan, dimana bisanya sultan menikah dengan seorang puteri raja atau kerabatnya sendiri.

Namun karena cinta yang tiada akhir diantara keduanya, sang Sultan menikahi Mahrunnisa, tanpa melihat kasta Mahrunnisa, yang dari kalangan rakyat jelata.

Berkat pesona kepribadian Mahrunnisa, kekuatan dirinya, ketegaran hidupnya, serta kemandiriannya, dan bukan sekedar kecantikannya.

Buku ini sungguh cantik menggambarkan romantisme keduanya, elegan, dan berkesan sekali.

Membaca novel ini membawa ikut serta, jauh ke abad, Kesultanan Mughal berdiri, Luar Biasa.

Mengerti lika-liku hidup permpuan dijaman itu, yang hanya dipergunakan untuk memuaskan nafsu laki-laki dan dilihat hanya dari segi kesuburannya.

Memahami ambisi Mahrunnisa, yang menginginkan kebebasan berfikir wanitanya, jauh melampaui pemikiran wanita dijamannya.

Ikut melakukan kebijakan-kebijakan poltik milik Sultan Mughal, begitu juga Ruqayyah yang begitu berperan terhadap kebijakan politik Sultan Akbar.

Mahrunnisa secara, tidak langsung ikut memimpin kesultanan Mughal, ikut mendasari setiap keputusan sang sultan, dan yang hebatnya mampu menggeser kedudukan Jagat Ghosni, yang semula permaisuri, menjadi miliknya.

Memiliki sang sultan utuh, jiwa, dan raganya hanya untuk dirinya sendiri, sekalipun sang sultan dikelilingi oleh puluhan bahkan ratusan wanita dalam haremnya.

Buku ini sempat mengingatkan saya pada sosok Kartini, pola pikir, gairah keinginannya, dan juga ambisinya demi pendidikan bangsanya.

Dan inilah novel, yang pertama kalinya, bercerita tentang Kesultanan Mughal yang mengupas habis mengenai Mahrunnisa, sang Ratu yang kemudian setelah menikah menjadi istri ke-20 sang sultan, bergelar Ratu Nur Jahan (cahaya bumi).

Advertisements

Ketika Tuhan Bicara, Ketika Kau Jatuh Cinta

  • SEKAR : “TUHAN, hari ini aku kenalan sama orang.Namanya Ikhwan…    orangnya baiiiiiik sekali. Kira-kira, besok aku ketemu lagi ga ya sama dia?” Tuhan hanya diam.
  • SEKAR : “YAA RABB, hari ini aku ngobrol sama Ikhwan. Ternyata dia ramaaaaah banget. Orangnya dewasa lagi… kira-kira, sekarang dia lagi ngapain ya?”. Tuhan hanya mendengarkan.
  • SEKAR : “YA ALLAH, hari ini aku ketemu dan ngobrol lagi sama dia. Rasanya senaaaaang sekali. Dia bilang aku baik… dia bilang… dia bilang… duuuh, kenapa sih aku ga bisa berhenti mikirin dia?”.broken-heart-red-cartoon
  • SEKAR : “Ya Tuhan, dia bilang dia sayang aku. Rasanya aku jatuh cintaaa!”.
  • SEKAR : “Tuhanku, udah seminggu ini dia ga ngasih kabar. Kenapa ya? Dia udah lupa ya?”
  • SEKAR : “Tuhanku, udah sebulan… tapi tetep ga ada kabar. Smsku ga pernah dibales. Surat dariku ga pernah dijawab. Ternyata benar dia udah ga peduli. Ternyata benar dia cuma pura-pura sayang”.

Aku sedih ya Tuhan… ternyata aku bodoh sekali. Ternyata… ternyata…

Akhirnya…

Tuhan pun bicara…

Sekar, sebelum tangismu memecah dunia

Sudah kupilihkan untukmu pendamping setia…

Yang kan menjagamu sepanjang waktu

Yang kan memimpinmu untuk menjaga kemuliaan dien-Ku

Maka mengapa engkau rela masuk

Ke dalam labirin cinta yang semu… dan

Mengikrarkan cintamu pada seseorang yang tak kau tahu…

Sekar…, saat kau merasa bahagia

Atas cinta yang kau rasa, saat itu pula

Aku tengah menangis sejadi-jadinya

Tak tahukah engkau betapa KU tercabik-cabik,

saat pikiranmu mengawang bersamanya?

Padahal kau tahu aku dekat, lebih dekat

Dari urat lehermu sendiri…

Maka mengapa kau tak peduli?

Sekar, saat kau merasa pijakanmu runtuh

Ketika ia pergi, mengapa kau tak melihat

Bahwa AKU selalu menemani?

Mengapa kau terus menyiksa diri dengan sejuta

Pertanyaan kenapa ia tak kembali…

Sekar yang KUkasihi dan KUsayangi seperti hamba-hambaKU yang lain,

kuberi engkau  Orang tua, saudara, dan sahabat

Untuk bisa kau jaga…

Untuk jadi teman tertawa, untuk menebar cinta

Untuk membantumu menghapus lara… tapi mengapa kau

Tak menyibukkan diri memikirkan mereka?

Memikirkan orang-orang yang benar-benar mencintaimu…

Memikirkan mereka yang sayangnya

tak pernah luruh oleh waktu…

Namun Cintaku, jika hati dan seluruh ragamu

Ingin kembali ke cahyaKU…

Maka tak pernah ada kata terlambat untukmu

Dan para malaikat telah mencatat niat tulusmu itu di bukunya…

dan saat itu pula kau kan melihatKu tersenyum bahagia…

Karena apa pun keadaanmu,

Kasih sayangKU tak kan pernah pudar

KepedulianKU tak kan pernah mati

RahmatKU tak kan pernah surut

Hingga bumi mengeluarkan isi perutnya…

Hingga semesta meruntuhkan langit terakhirnya…

Ketahuilah, Cinta_KU… kasih_KU kan selalu ada

Sampai perjalananmu nanti menuju surga.

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia,

bu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang w anita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.

Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.

Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan –lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka.

Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya…
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya,

Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.

cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu….dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku,
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar.

Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.

Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota .

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

Syurga Bukan untuk Orang-orang Baik

orang- orang yang menjadi penghuni syurga adalah

orang-orang yang salah

orang-orang yang tahu kesalahannya dan memperbaikinya

penghuni neraka adalah orang-orang baik, orang-orang yang

berbusung dada

dengan semua kebaikannya dan selalu merasa diri sebagai orang baik

hingga lupa dengan kesalahannya

Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa…

Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak
menuju rumah ibu. Sore itu, tak biasanya udara begitu segar, angin
lembut menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak
berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari
belakang, “Abang becak …?” Ya, kudapati ia tengah lahapnya menyuap
potongan terakhir pisang goreng di tangannya. Sementara tangan
satunya tetap memegang kemudi.

“Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan …,” gumamku.
Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi
pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi
becaknya,
dan … untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan
pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat
kebanyakan orang tengah berpuasa.

“mmm …, Abang muslim bukan? tanyaku ragu-ragu.
“Ya dik, saya muslim …” jawabnya terengah sambil terus mengayuh
“Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan.
sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak
berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang
jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa …”
deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.

Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu
menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu
masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya
sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke
arahnya.

“Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik
becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena
pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini.”

Tanpa memberikan kesempatan ku untuk memotongnya,
“Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak
asing lagi dengan puasa,” jelas bapak tukang becak itu.
“Maksud bapak?” mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.
“Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan
berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan
orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib,
sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya
…”

“Jadi …,” belum sempat kuteruskan kalimatku,
“Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus
berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan …”
“Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang
goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak
menghormati orang yang berpuasa, tapi…” kalimatnya terhenti
seiring
dengan tibanya saya di tempat tujuan.

Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak
semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa
melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk
makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya.
Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun tak
kan berputar …

Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya
sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi
kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari
perhatian dan kepedulian saya?

“Wah, nggak ada kembaliannya dik…”
“hmm, simpan saja buat sahur bapak besok ya …”

Saya jadi teringat seorang teman di Kelompok Kerja Sosial Melati, ia
punya motto hidup yang sederhana, “Kami Peduli”

Kelebihan dari Sholawat pada Nabi Muhammad S.A.W

Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda :

Sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.”

Lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah S.A.W :

Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?“.

Maka berkata Rasulullah S.A.W :

Ya, memang benar,
Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir’aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura!
“.

Mau sukses! Jangan bermental Pengemis

Salah satu ajaran Rasulullah saw, yang berkaitan dengan manajemen diri adalah Sukses dengan membiasakan diri untuk tidak bermental pengemis.

Salah satu hadis riwayat Abu Dawud, Nasai, dan Tirmidzi, dikisahkan bahwa seorang laki-laki dari golongan Anshor datang menghadap Rasulullah saw. Dia memohon agar Rasulullah saw memberinya sesuatu untuk dimakan.

Memang kamu tidak mempunyai sesuatu di rumah?”

tanya Rasulullah.

Tentu saja ada wahai Rasulullah. Saya masih mempunyai sehelai kain yang sebagiannya kami pakai dan sebagian lainnya kami hamparkan, serta sebuah gelas besar tempat kami minum air”.

Jawab laki-laki itu.

Nabi kemudian menyuruhnya membawa dan memperlihatkan barang-barang itu kepadanya. Si laki-laki Anshor itu lalu membawa barang itu dan menyerahkannya pada nabi.

Siapa yang akan membeli barang-barang ini?

kata nabi. Seorang laki-laki berkata,

Aku berani dengan harga satu dirham”.

Rasulullah menimpali,

“Siapa yang akan menambah lebih dari satu dirham?”.

Seorang laki-laki berkata,

Aku mengambilnya dengan harga dua dirham”.

Nabi kemudian memberikan dua barang itu kepada penawar terakhir dan mengambil dua dirham itu, lalu memberikannya kepada lelaki Anshor tersebut.

”Belikan makanan dengan salah satu dari dua dirham ini lalu berikan kepada keluargamu, dan belikan sebuah kapak dengan satu dirham lainnya kemudian bawalah kapak tersebut kepadaku”.

Si laki-laki Anshor itu pun bergegas melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW. Dia menyerahkan kapak yang baru dibelinya kepada Rasulullah SAW. Setelah itu, Rasulullah SAW memberikan pegangannya, lalu bersabda,

“Pergi dan carilah kayu bakar, kemudian juallah. Aku tidak ingin sama sekali melihatmu selama lima belas hari”.

Setelah mengerjakan perintah Rasulullah saw itu, datanglah laki-laki Anshor itu membawa 10 dirham kemudian membeli makanan dengan sebagian dari uang itu. Rasulullah bersabda,

“Ini lebih baik daripada kamu meminta-minta karena hal itu hanya akan menjadikan noda di wajahmu pada hari kiamat nanti”.

Ada beberapa hikmah sangat penting yaitu;

Pertama, hindarkan sikap meminta, sebab bisa melemahkan kegigihan jiwa untuk menghadapi hidup ini;

Kedua, Isi perut kita dari hasil keringat sendiri agar halal prestatif, bukan halal karena belas kasihan orang, apalagi karena sebel;

Ketiga, Berani menghadapi resiko psikologis dengan cara ada rentang waktu kegigihan tidak merengek-rengek minta bantuan misalnya 15 hari seperti terapi psikologis yang dilakukan Rasululullah saw.