Posts from the ‘CeRPeN’ Category

Allah Termehek-Mehek aku PadaMu

Ya…Allah, hari ini saya menatap Kresno anak saya yang bungsu, pada sisi mata hati yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Hari ini dia batuk Ya Allah, dari hidungnya keluar ingus, sedang dia terpaksa harus kutinggal sendirian di rumah bersama pengasuh baru. Seharian kemarin aku bekerja berada di kantor, tak kunjung pernah berhenti memutar otak…ketika kulihat kantung di bawah kosong tak berisi.
Allah. Cobaan apa lagi ini hari ini, orang yang seharusnya menjadi utama penanggung semua beban rumah, menghilang entah kemana, tak ada tanggung dan jawab lagi atas apa yang terjadi.
Menangis pelan aku dalam sujud yang panjang dalam sunnah-sunnah tanpa batas. Allah dimanakah engkau, menuju relung dan lorong panjang terus dan terus-menerus merangkak menggapaimu. Allah disisi mana aku genggam tangan mu di kanan atau di kiriku.
Aku menoleh setiap langkah, setiap tapak, hari ini aku meracau, merapal ribuan doa kepadaMu.
Aku merindukanMu lebih, Ya Allah, untuk menemani hari-hariku kembali.
Aku butuh kali ini, butuh lebih, walau aku malu, terus-menerus membutuhkanmu.
Siang ini seorang teman menusuk hatiku lebih, ketika tugas yang telah aku selesaikan kembali, dia yang mengambil muka didepan pimpinan, memotong jalanku seenaknya sendiri, memberikan beban lebih pada pikiran dan hatiku.
Melenggang ringan tak bersalah setelah mengucap fitnah, hingga langkahku terhenti dimeja pimpinan, menunduk dimakinya.
Allah ya Rabb, dimana engkau.
Pelahan air mataku menetes…tak sanggup…aduh tak sanggup lagi rasanya
Saat aku tak mampu, siang itu sebuah mujizat dating, sebuah panggilan dari accounting kantor, di meja kerjaku
“Sayang, kamu belum ambil uang lembur neh, cepetan keatas, saya mau keluar nih” serunya merdu ditelingaku, bagai bunyi pipit yang setiap pagi membangunkanku disela-sela mimpi lelap..
Allah, alhamdulillah inilah jawabanmu, Lembur ini cukup untuk membayar buku si Bimo, cicilan sekolah Kresno, dan mengajak makan anak-anak hari ini.
Terima Kasih Allah.
“Tidaklah Dinyatakan Kamu Beriman Sebelum Kamu Di Uji”
“Allah Tidak Akan Memberikan Cobaan Di Luar Batas Kemampuan Hambanya”
“Allah Dekat Dengan Orang-Orang Yang Bersabar”
“Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu Kaum Jika Kaum Itu Tetap Tidak Mau Berubah”
Mengingat kembali aku pada beberapa ayat yang kuhafal sepotong meski tak penuh.dan detail tapi kuresapi maknanya hari ini “LEBIH”. Allah.
Allah aku harus bertahan demi cinta yang telah terlanjur ada karena amanahmu ini begitu berharga.
Kuhargai dia melebihi nyawaku…sungguh !
Advertisements

Cinta Dalam Adzan

aroline mendengarkan adzan pelan dalam lamat-lamat bau dupa, Ning Kemiri sibuk menyimak lantunan tembang Jawa pada kamar yang dipenuhi dupa aroma terapi, wangi dupa menyurak menembus hidung Caroline yang mancung, seakan menyisakan sisa kenang yang tak akan pernah dilupakannya.

Hati Caroline teriiris perlahan, sepelan tembang macopat yang berada di kamar Ning Kemiri, bau dupa terapi tak mampu menepis magis di hatinya, kerinduan akan Lia dan Abraham, dua buah hati yang sangat dicintainya. Kerinduan menyisakan mimpi indah yang pernah di laluinya dulu bersama Pramono, Pria Jawa yang membuatnya tergila-gila, menusuk ruang hidup dan cinta matinya. Membawanya jauh menyebrangi lautan. Membawa mimpi buruknya sebagai masyarakat kelas bawah, yatim piatu, dari Cape Town – South Africa menuju Indonesia, tanah air kedua Caroline. Menikah secara Jawa, mengenal Islam pelan. Masuk dalam kancah keluarga bangsawan Sostroamidjoyo. Menyandang gelar dibelakang namanya, sekalipun Caroline tetap ingin dipanggil Carol, nama masa kecilnya, pun akhirnya dia rela menjadi menyandang gelar Ny. Pramono, mendampingi Pramono, sebagai salah satu orang pengusaha terbesar di negerinya.

KETIKA DURI MENUSUK CINTA

Berawal dari tahun demi tahun berlalu, Caroline berusaha menyesuaikan diri mengubur kultur budayanya dengan menjadi orang Jawa tulen, menekan huruf l dalam aksen bulenya yang kental, mengecat rambutnya menjadi hitam, bersanggul, berkebaya, berceloteh layaknya Jawa, mengenal laku dodok, unggah-ungguh, dan juga menekan emosi. “Nerimo Ing Pandum”. Pendeknya Caroline memperoleh julukan sinis baru di keluarga Sastromidjoyo, yang tidak pernah bisa menerimanya dengan ikhlas, sebagai bagian dari keluarga bangsawan besar di masanya, mereka sering mengejek bahasa Jawanya yang “medok” dengan berbagai dalih bahwa apa yang diusahakan adalah sia-sia, sering mengucilkannya dalam berbagai acara keluarga, menghina status orang pinggiran di negerinya, bahkan menjulukinya “Bule Jawa”. Dan Caroline teramat tahu, pasrah dengan semua hal karena dia mencintai keluarganya, mendewakan mereka, menganggap bahwa anak-anak dan keluarganya adalah segalanya.

Pramono larut dengan kariernya di dunia bisnis dan perbankan, nyaris melupakan Caroline, membiarkan Caroline merasa dirinya berdiri pada ruang hampa tanpa Pramono, berjuang menepis omongan orang tentang dirinya yang “bule”. Bahasa yang di bencinya karena istilah “bule” nya sendiri yang Caroline tahu adalah yang berarti “albino” dalam bahasa aslinya, yang dipergunakan untuk keadaan fisik tertentu dari manusia atau binatang, bahkan orang kulit putih pun dapat saja albino. Atau semacam cacat bawaan. Penghinaan itu Caroline tampung kian lama kian menumpuk. Belum lagi menepis puluhan gosip tentang affair Pramono dengan beberapa rekan bisnis wanitanya.

Memahami kegundahan hati bahwa selama ini dia menjadi orang lain. Memahami komunikasinya antar Pramono dan dirinya, seperti tak pernah ada titik temu. Memahami akhirnya, dia tidak bisa menjadi diri sendiri yang selama ini berusaha di tekannya.

Caroline yang tenggelam dalam dunianya, mulai menekuni ritual lamanya di Cape Town, masa suram mengenal ilmu klenik warisan leluhur africanya “vodoo”. Menggunakan ilmu ini untuk terus-menerus menutupi rasa minder dan terkucilnya dari masyarakat kelas atas Jawa Kental. Mulai menelusuri perjalanan kelamnya selama di Cape Town. Beberapa sakit hati tertuntaskan lewat ilmu hitam tersebut. Beberapa diantaranya bahkan sempat tunduk berkat ilmu hitamnya. Caroline melupakan semuanya bahkan dia mengendalikan Pramono. Tahun-tahun berlalu Caroline semakin tenggelam dalam klenik, melepas atribut agama barunya. Benar-benar terjun menekuni “Vodoo”. Hingga Lia lahir, di susul kemudian Abraham. Kesibukan Caroline mengurus keduanya, sejenak menjauhkannya dari Vodoo. Caroline sangat mencintai anak-anaknya dan Pramono, kebahagiaan Caroline telah lengkap. Pengalamannya menjadi Yatim Piatu sejak umur 3 tahun, membuatnya mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga yang sangat dicintainya. Menempatkan cintanya kepada mereka diatas segala-galanya.

Hingga memasuki tahun ke – 15 pernikahannya, Caroline menemukan Pramono yang mabuk berat, tertidur di dada seorang wanita Tionghoa, di bagian barat rumahnya. Caroline berlari meninggalkan kediaman keluarga besar Pramono, terus berlari menyusuri jalanan sunyi, tangis yang meledak, teriakan Pramono, kejaran mobil Pramono tak mampu menghentikan pelarian Caroline.

Hingga pingsan dan diketemukan oleh Ning Kemiri, seorang wanita tua berkerudung, yang tinggal jauh di luar tembok menjulang keluarga Pramono, tinggal menepi di sebuah gubuk asri miliknya selama hampir 2 tahun ini.

Dari Ning Kemiri, Caroline berupaya mengembalikan kepercayaan dirinya, kegundahan hati, kesedihan, keterpurukan, dan belajar agama, tentang Ilmu Ikhlas. Sesaat Caroline teringat “Vodoo”, beberapa kali di cobanya mengulangi ritual ilmu hitam itu, hingga kemudian diketemukan Ning Kemiri. Wanita inilah yang menyadarkannya.

SILUET MALAM DIANTARA REDUPNYA REMBULAN

Caroline tersadar dari lamunannya akan masa lalu, ketika suara Ning Kemiri memanggilnya dari dalam gubuk,” Linah, kemarilah nduk, duduk didekat si mbok”, Caroline tersenyum, begitulah namanya sekarang, Si Mbok menyebutnya dengan susah payah, akhirnya mengambil inisiatif untuk menyebutnya Linah. Caroline merasa betah tinggal di gubuk, sudah menganggap Si Mbok seperti orang tuanya sendiri, dan si Mboklah yang menghentikan kebiasaan buruknya merapal mantra-mantra Vodoo, si Mbok lebih banyak mengenalkannya pada lantunan ayat suci Al-Qur’an memberinya terapi dupa wewangian bunga-bunga segar untuk menghilangkan penat dan stressnya, serta selalu merayunya untuk mulai sholat. Dan yang paling bahagia tidak ada satupun tetangga ataupun orang-orang di sekitar yang menganggapnya terlalu aneh dan menyebutnya “Bule Jawa”.

“Sebentar Mbok” sahut Caroline sambil membasuh air matanya.

Si Mbok, menatap Caroline tajam, tahu wanita yang kini telah di angkat menjadi anaknya ini sedang bersedih. Kepiluan jelas terlihat di mata Wanita ini.

“Linah kamu pasti habis menangis, matamu itu, tidak pernah berbohong”.

Caroline tersenyum getir, menatap jendela yang terbuka lebar dari kamar si Mbok, dan mengintip bulan yang muncul malu-malu malam itu.

Si Mbok menghela nafas, nyaris berbisik “Linah anak-anak hanyalah titipan, sewaktu-waktu Gusti Allah menghendaki kita harus merelakan, entah karena kematian, pernikahan, ataupun perceraian”.

Caroline tak kuasa berhambur ke pelukan si Mbok menangis tersedu, ada keinginan untuk kembali berada diantara tembok menjulang, tapi ada yang menahan untuk memasukinya, ketidak nyamanan,dan segala tekanan di dalamnya membuat Caroline jengah terlebih sekarang hampir dua tahun, Caroline yakin mereka sudah melupakan, karena tidak di dengarnya mereka mencari lagi, atau entah karena Caroline pandai menutup keberadaannya selama ini.

Tapi keinginan kuat menjumpai kedua anaknya begitu bertalu didadanya.

Si Mbok mengelus pelan rambut Caroline, berkata sekali lagi “Sholatlah Linah, temukan kedamaian diantara guyuran wudhu dan juga doa di dalam sholatmu, cobalah, kapan lagi sudah hampir dua tahun”.

Caroline menengadah, disaat yang sama lamat-lamat Caroline mendengar suara adzan, di balik pintu hati yang sangat tertutup, Hidayah Allah turun, untuk pertama kalinya Caroline, mendengarkan suara adzan terindah malam itu. Terbangun dari pelukan Si Mbok, beranjak keluar perlahan, menatap langit-langit Allah, menangis bahagia.

AKHIR PENANTIAN PANJANG

Tiga tahun berlalu, Caroline benar-benar menjadi muslimah, dan kini berkerudung rapat, menikmati hari-harinya dengan mengaji dan sholat, semakin khusyuk, semakin Ikhlas ketika dia memahami semuanya adalah hikmah, langkahnya semakin ringan, hingga suatu hari dalam perjalanan menuju masjid, seorang menyapanya dengan panggilan yang membuatnya menangis tersedu. “Mama….”. Caroline menoleh pelan mendapati sosok laki-laki remaja maha tampan, memiliki mata sebiru miliknya, Caroline tertegun, pandangannya beralih seakan menatap cermin ketika berlahan dia menoleh pada wanita disebelah laki-laki remaja itu, rambutnya ikal kemerahan dan birunya mata, mengingatkan Caroline pada sosok Carol dirinya dulu.

Gumannya sangat pelan tapi menyayat kalbu “Lia?…..Abraham?”.

Sedetik kemudian mereka bertiga tenggelam dalam peluk, menangis haru sekaligus bahagia, kerinduan Caroline, doanya yang hampir 3 tahun, di ijabah Allah dengan cara terindah, merengkuh kedua anaknya dalam pelukan.

Dalam pelukan Caroline tidak menyadari, sosok laki-laki yang telah menua, rambutnya sebagian telah memutih, tapi sisa ketampanannya tidak akan pernah dilupakan Caroline yaitu suaminya Pramono, Ia menatap mata Pramono yang sayup, seakan ada kepedihan mendalam di sana.

Caroline sesaat mundur, tak meyambut uluran tangan Pramono, bukan karena kemarahan yang telah pudar seiring waktu dan pendewasaannya tapi karena lama tak bertemu, Pramono sosok asing dimatanya.

Pramono malu dan juga canggung menatap Caroline, ada banyak hal yang tidak mampu di ungkapkan, bagaimanapun Pramono memaklumi, apa yang telah terjadi, dia telah menghianati Caroline tepat di depan matanya.

Tiba-tiba kedua anaknya meraih tangan masing-masing, menautkan keduanya dan merapatkannya, memaksa mereka berdua berjabat, Lia bahkan mengeluarkan kamera kecil miliknya, memotret adegan pertemuan bersejarah dalam keluarga mereka. Caroline menatap kedua anaknya, ada keyakinan untuknya. Setelah itu dia menatap Pramono, menyusuri banyak kerutan di wajah, dan menjumpai segaris tipis senyum bijak, Caroline menyentuh wajah Pramono yang telah menua, saling bertatapan sejenak hingga kemudian larut dalam hangatnya pelukan kerinduan, Caroline melupakan semua peristiwa, tahun-tahun membuatnya belajar memaafkan, belajar Ridho, belajar mengikhlaskan semuanya.

Diantara suara Adzan Magrib yang bertabuh, mereka berempat saling berangkulan menyongsong kehidupan baru yang lebih baik, bersama menuju masjid, mencari kebahagiaan hakiki, mengesampingkan cinta dunia yang fana dan berjalan meraup cinta Illahi Rabbi yang kekal abadi.

Sayup-sayup suara renta Ning Rukmini terdengar dari dalam gubuk, melantungkan sebuah ayat Al-Qur’an………

“Fabiayyiala irabbikuma tukadzziban…”(Dan nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?”)

 

Istriku Carikan Istri Untukku

Rif,  carilah istri lagi”, Kata Zia.

“Gila, Kamu?”, apa maksudmu. Kata Rifa’i keras.

Mata Zia berkaca-kaca, dadanya berdegub keras, tangannya sibuk memainkan jilbab  biru mudanya.

Rifa’i memandang lurus tepat di bola mata Zia, mencari-mencari apa yang ada dalam pikiran, cintanya.

Tiba-tiba Zia terisak pelan, meracau bebas :

“Aku ikhlas, Rif, Aku Ridho, Aku mau di madu”.

Setelah kalimat terakhir Zia menangis lebih keras lagi. Kali ini tersenggal-senggal, Rifa’i memegang bahu Zia, matanya tak lepas menatap Cintanya.

“Zia, kamu ngomong apa sih, Sayang?”, kali ini nada suara Rifa’i melunak.

“Rif, tidak pahamkah kamu, berapa lama kita menunggu-nunggu buah hati, tak juakah kamu tahu, betapa aku sudah tidak mampu lagi mendengar pertanyaan dari  Abah dan Umi, begitu juga Ibu dan Bapakmu, kakak-kakak iparmu, belum lagi, para tetangga yang bergunjing, 11 tahun Rif…”, kali ini kata-kata Zia tercekat di sini.

Wajahnya tiba-tiba memerah, kali ini tangisnya meledak keras tak terbendung, hingga tangannya dingin, dan Rifa’i tak mampu menghentikan.

 

 

KETIKA EMBUN PAGI MENETES DI DEDAUNAN

Zia menggeliat ketika matahari menerobos ruang kamarnya. Matanya yang sembab, sisa tangis tadi malam.

Membuatnya terkesiap, mentari telah malu-malu menampakkan dirinya, embun sisa hujan kemarin menetes di dedaunan, sedang dia masih berbaring malas, melihat jam weker di samping mejanya, jam 05.30 Wib, Zia langsung mengambil handuk, berwudhu, dan menunaikan sholat, setelahnya segera menuju dapur, namun langkahnya berhenti seketika begitu melewati ruang makan.

Masakan telah terhidang, dan Zia langsung berpikir, Rifa’i. Siapa lagi yang membuat kejutan ini selain dirinya, karena mereka hanya tinggal berdua.

Bergegas Zia, mencari sosok Rifa’i hingga dia menemukan suami tercintanya sibuk merapikan Laptop di ruang kerjanya.

“ Belum tidur, Rif ?”, kata Zia, mendapati Rifa’i, dalam wajah kuyu.

Zia langsung menghampiri, membantu Rifa’i berbenah.

Kemudian, mata mereka saling bertatapan, kali itu dia melihat mata jengah Rifa’i.

“Rif, makasih buat sarapannya, maaf ya saya kesiangan, mestinya saya………….”

Rifa’i, meletakkan telunjuknya di bibir Zia “ssttt, sudahlah Zia, kamu telah melakukan ini sepanjang pernikahan kita, 11 tahun, dan ini bukanlah hal yang kamu sengaja, km telah melakukan yang terbaik, Aku hanya ingin sesekali membantumu.” Kata Rifa’i seraya berlalu.

Tiba-tiba tangan Zia, menahan langkah Rifa’i. Kata Zia “Rif, kemarin malam aku benar-benar serius.”

Rifa’i membalik badan, memegang bahu Zia, menatapnya kembali.

“Zia, Kalo kamu serius, baiklah aku setuju, tapi kamu yang  harus mencarikannya untukku”.

Mata Zia sejenak berbinar, tadinya dia tidak yakin Rifa’i akan menyetujui niatnya, kini kekhawatirannya tidak terbukti, akhirnya Rifa’i menyetujuinya.

 

MINGGU PERTAMA – MINGGU KEDUA

Zia, menelpon seluruh teman baiknya, terutama yang belum menikah. Dia menawarkan ide untuk menikahi Rifa’i.

Semua sahabat Zia menyebutnya “GILA”.

Hingga akhirnya hari itu dia menyerah.

MINGGU KETIGA – MINGGU KEEMPAT

Zia nekat menawarkan suaminya pada sebuah biro jodoh di koran yang pernah di bacanya.

Sampai dengna minggu keempat dia menerima puluhan surat jawaban, dia mempelajari satu bersatu surat-surat jawaban yang  dia dapat, membaca satu persatu.

Zia menelitinya dan merasa tidak ada satupun yang sesuai dengn kretria yang diinginkan Zia.

Terutama adanya syarat untuk membuat surat keterangan berkaitan dengan test kesuburan.

Hampir semua surat balasan tidak menyertakan surat keterangan tersebut, hanya beberapa tapi tidak memenuhi kreteria karena mereka mulai mengada-ada hanya seperti menjual rahimnya.

Zia tertunduk lesu.

MINGGU KELIMA – MINGGU KEENAM

Zia menambah volume semangatnya mencarikan Istri  untuk Rifa’i suaminya, kali ini dia menawarkan kepada janda-janda yang di kenalnya dalam majelis taklim di sekitar rumahnya.

Hingga suatu saat Zia menemukan seseorang yang  dianggap cocok, seorang Janda satu anak, dan masih sangat belia, suaminya meninggal ketika menjadi TKI di luar negeri. Dan kini dia menjanda.

Dengan setengah bergetar, Zia, menerima kartu nama yang di berikan Janda itu. Wajah janda itu mengingatkan Zia pada seorang artis sinetron di TV “zaskia Mecca”.

Zia mulai cemburu, hatinya berdegup kencang, dia kembali melihat janda cantik itu, mulai dari wajah hingga postur tubuhnya yang aduhai.

Zia kemudian menekuri dirinya. Wajahnya jelas kalah jauh dengan sosok wanita yang kini dihadapannya, begitu juga warna kulitnya yang sawo matang, di banding wanita itu yang kulitnya jauh lebih bersih dan bersinar.

Tapi kemudian di tepis pikiran cemburu itu jauh, dia kembali pada niat awal untuk mendapatkan calon pendamping suaminya.

Trisna, begitulah nama panggilan janda itu.

Zia, mulai mengatur jadwal kencan suaminya dengan janda itu.

Malam harinya Zia sengaja mengajak Rifa’i keluar untuk memperkenalkan Trisna pada suaminya.

Trisna datang mengenakan gaun merah dan jilbab merah menyala, Masyaallah cantik sekali batin Zia, hati Zia yang lain bergetar hebat. Hampir saja dia menangis, terlebih ketika dia  melihat Rifa’i, yang seakan terpesona oleh kecantikan Trisna.

Sebagai sesama muslimah, Trisna menghargai Zia. Sehingga dia bersikap sangat sopan, menunggu Zia memulai pembicaraan.

Mereka mulai berbasa-basi memperkenalkan dirinya masing-masing, sesekali dia melihat Mata Trisna melirik malu Rifa’i, dan kilatan mata itu, membuat jantung Zia seakan berhenti.

Hatinya terasa terkoyak, Zia meremas jilbab yang di kenakan.

Sedang Rifa’i sepintas, tidak begitu tertarik.

Dirinya malah sibuk memainkan Hpnya.

Zia tidak menanggap ada lirikan sebal suaminya kepadanya.

MINGGU KESEPULUH

Sudah 3 kali ini suaminya, melakukan ta’aruf dengan Trisna.

Dan untuk kali ketiga ini, dia menemukan adanya perbedaan, dari sikap, tindak tanduk, dan juga kebiasaan suaminya.

Dimata Zia, Rifa’i terlihat makin tampan, dan bersih, serta mulai merubah penampilannya.

Puncaknya adalah malam minggu ini, malam keempat dia mengajak Trisna makan malam dan rencananya Trisna akan mengenalkan Rifa’i kepada keluarga besar Trisna.

Zia tersekat ketika Rifa’i berpamitan dengannya.

Ketika melangkah menuju pintu, Zia menubruk Rifa’i dari belakang, memeluknya, terisak hebat di punggungnya.

Rifa’i menoleh kearah Zia.

Memandang wajah Zia yang terisak, kemudian memegang dagunya, mencium keningnya.

Katanya lembut “ Ada apa. Sayang?”

Zia menggeleng, namun sejurus kemudian dia berkata “ Rif, andaikata kamu mencintainya, dan berniat melangsungkan pernikahan, maukah kamu menceraikan aku, karena aku tidak tahan dengan semua ini, aku mulai tidak ikhlas Rif.”

Kening Rifa’i mengernyit, seulas senyum nakal terurai di bibirnya.

“Katanya kamu mau aku menikahi Trisna, dan kamu rela di madu?, aku khan menuruti kamu Sayang. Karena aku sayang sekali sama kamu”, Kata Rifa’i.

Tangis Zia semakin keras.

Katanya kemudian “ Ternyata sulit menjadi Ikhlas Rif,ketika orang yang sangat kita cintai, harus berbagi cinta dengan yang lain. Tidak Rif, Aku tidak sanggup, misalakan aku boleh memilih, jika memamng kamu sudah terlanjur mencintainya. Lebih baik kamu tinggalkan aku, dan menikahlah dengannya. Aku akan lebih menerima itu, karena aku tidak perlu melihat kalian bermesraan setiap hari di hadapanku”. Cerca Zia.

Rifa’i, tak tak kuasa menahan tawanya, sejurus kemudian memeluk Zia, mencium keningnya kata Rifa’i.

“Zia siapa yang akan menikah? Dan siapa yang akan meninggalkanmu?. Kamu pikir begitu mudahnya cinta yang kita bina 11 tahun lamanya berpindah hati. Sejak awal menikah, aku sudah memutuskan akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku untuk membahagiakan kamu, menyayangi, mencintai, dan melindungi kamu Sayangku. Ikatan pernikahan kita disaksikan Tuhan, dan menikah bukan permainan Zia”. Kata Rifa’i lembut.

Zia tertegun, menghentikan isaknya kemudia menjauhkan tubuh Rifa’i seraya berkata “Loh, bukannya kamu sudah melakukan taaruf dengan Trisna?, lalu……..”

Rifa’i memotong kata-kata Zia “ Aku sudah memutuskan hubungan sejak hari pertama kami makan malam, aku pikir kamu konyol sekali menjodohkan aku dengan wanita lain, dan kekonyolan itu harus di akhiri mulai hari itu. Aku memang sengaja merubah penampilan supaya bisa membaca reaksi kamu, ternyata Cintamu masih sedalam ketika pertama kita menikah dulu”.

Zia cemberut. Mencubit perut Rafa’i yang gendut, sedetik kemudian mereka larut dalam cengkrama yang indah, hari ini hari terindah bagi Zia.

Rifa’i tidak pernah mempersoalkan kekurangannya, seperti juga dia tidak pernah mempersoalkan kekurangan Rifa’i, dan ide untuk mencarikan Istri untuk suaminya adalah ide paling konyolnya sepanjang usia pernikahan mereka.

Di beberapa saat setelahnya, Rifa’i, sibuk mempersiapkan persalinan Zia, setelah 15 tahun menikah, Allah telah melihat kesungguhan pasangan ini sehingga mereka akhirnya di berikan keturunan.

“ Allah Maha Tahu yang terbaik bagimu sedangkan kamu tidak”

 

SILUET RABIAH ALDAWIYAH

Disuatu malam Rabiah mengenakan pakaian yang paling indah, dan perhiasan yang paling cantik, berdandan cantik untuk suaminya. Kemdian dia mendatangi suaminya, ketika suaminya berkunjung ke rumahnya dari rumah istrinya yang lain, kemudian katanya

“Suamiku apakah engkau menginginkanku?”

Kata suami Rabiah “Tidak, sayangku, aku hanya ingin menjengukmu,”

Tiga puluh menit kemudian setelah bercengkrama dan mengobrol dengan suaminya, dia mengenanggalkan pakaian indahnya, berganti dengan pakaian sholat, dan kembali bermunajat kepada Allah.

Tiada beban di hatinya, hanya ada keikhlasan dan Ridho di hatinya.

Sedang suaminya kembali ke rumah istrinya yang lain.

Andai kita diberikan keikhlasan seperti Rabiah Aldawiyah.

Subhannallah………..dan untuk mencapai itu, kita tidak boleh menginginkan duniawi sama sekali, kecuali untuk makan dan minum secukupnya serta membawa nafsu pada kecintaan Illahi Rabbi…………..